Friday, June 19, 2020

Tiga bulan sudah kita hidup dalam masa karantina dengan berbagai perubahan dinamis dari segi kebiasaan serta kebijakan yang mengiringi di dalamnya. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi tajuk yang meramaikan linimasa kita dalam beberapa waktu ke belakang ini. Membatasi pergerakan manusia, menjaga jarak serta mengantisipasi sebaran virus covid-19 untuk terus meluas.

Selama masa PSBB tersebut Pemerintah baik itu Pusat maupun Daerah sama-sama disibukkan untuk menggodok agenda penanganan pandemi yang tengah melanda negeri ini. Simalakama antara kesehatan dan ekonomi pun tidak terelakkan lagi. Ekonomi baik dari skala mikro hingga agregat pun terkena dampak. Kesehatan pun jelas sama, jumlah kasus positif kian meningkat setiap harinya, rumah sakit mulai kebanjiran pasien, tak dipungkuri ada satu-dua kasus yang membuktikan adanya penolakkan pasien rujukan covid-19 di RS dikarenakan penuhnya okupansi ruang perawatan, solusi isolasi mandiri pun mau tidak mau menjadi solusi. Di tengah kegelisahan tersebut, dicetuskanlah kampanye agenda kegiatan baru dengan tajuk "New Normal" atau "Kewajaran Baru", salah satu inti dari fase ini adalah guna mendukung ekonomi yang sedang tertidur namun tetap memperhatikan aspek kesehatan dengan dilakukannya langkah mitigasi berupa penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Awal Juni dipilih sebagai awal penerapan fase Kewajaran Baru tersebut. Di tengah trend penambahan kasus positif yang kian memuncak, Pemerintah sepertinya telah mantap untuk tetap memulai penerapan fase tersebut pada awal Juni ini. Dipilihlah bebereapa provinsi yang dianggap memiliki dampak ekonomi besar namun ada pada zona sebaran covid-19 dengan risiko rendah. Jawa Barat adalah salah satunya. Ditengah kontroversi yang muncul, semoga apa yang telah dirumuskan ini berdampak signifikan dan nyata pada tumbuhnya kembali ekonomi baik dari skala mikro hingga agregat, serta yang tak kalah penting jangan sampai fase ini membawa kita melangkah kembali ke belakang terutama terkait sebaran covid-19 yang tak terkontrol itu sendiri. Doa dan usaha berjalan seiringan. Yang terbaik untuk kita semua. Aamiin.

---

Membuka postingan kali ini dengan beberapa paragraf artikel terkait pandangan pribadi atas kondisi yang tengah terjadi saat ini. Dalam awal fase Kewajaran Baru ini saya pun sempatkan berkeliling wilayah Bandung beberapa hari yang lalu. Setelah hampir 3 bulan pula vakum memotret, ini merupakan kali pertama pula saya keluar rumah di masa pandemi ini. Saat itu adalah hari pertama ditetapkannya PSBB Proporsional atau gubernur kami menyebutnya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Beberapa pusat perbelanjaan belum beroperasi saat saya melakukan pemotretan ini. Dijadwalkan untuk Kota Bandung pusat perbelanjaan sepeti mall akan kembali beroperasi (dengan menerapkan protokol kesehatan ketat) pada tanggal 15 Juni 2020. Kodak Pro Image 100 menjadi pilihan film saya kali ini dengan ditemani Canon Model 7 serta lensa Industar 55mm sebagai perlengkapan memotret. Film ini baru saya proses 2 hari yang lalu di Seni Abadi Photostudio sehingga hari ini baru sempat saya naikkan ke blog untuk diposting dalam bentuk artikel. Berikut merupakan 10 hasil pilihan tangkapan saya dalam edişi "Fotografi Jalanan dan Kewajaran Baru" ini.











Terima kasih,
Dzaka Zulafa
2020

Thursday, May 7, 2020

Selama bermain analog hampir tidak pernah saya mencicip film custom hasil eksperimen banyak lab lokal di Indonesia. Tak terkecuali film bulk Kodak Vision 3 yang memang akhir-akhir ini marak menjadi solusi di tengah harga film lain yang semakin melambung tinggi. Waktu itu kebetulan berbarengan dengan rilisnya film fenomenal dari Hipercat Lab, Viola 50 saya memutuskan untuk sekalian meminang Cinexpro 200 yang kalau saya tidak salah basenya adalah film bulk Kodak Vision 3.

Keunikan film cinema (Kodak Vision 3) ini adalah saat pemrosesan kita bisa memilih untuk memrosesnya sebagai color dengan menggunakan cairan ECN-2 atau bisa melakukan cross process untuk menjadi film black and white. Karena sedang senang memotret film hitam putih maka saya memutuskan untuk memroses film ini menjadi b&w saja. Tapi tenang saya kemarin membeli dua buah film Cinexpro 200 ini sehingga rencananya satu film yang tersisa akan diproses color ECN-2. 

Hunting masih di rute favorit sekitar Alun-Alun Kota Bandung, disini jadi favorit saya karena gampang cari parkir untuk kendaraan dan juga dilanjutkan di sekitaran Jalan Riau. Kamera yang saya pakai saat itu juga masih kamera favorit yakni Canon 7 dengan lensa LTM satu-satunya yang dipunya yakni Industar 61 focal lenght 55mm. Maksud hati sangat ingin meminang lensa baru tapi disaat uang sudah terkumpul ada saja keperluan atau godaan lain yang datang haha. Ditunggu saja kalau momennya pas rencana ingin meminang Canon LTM 50mm f1.8, karena sejauh benchmark harga yang dilakukan sepertinya varian ini yang affordable dengan kualitas di kelasnya.

Oh iya kembali ke topik hunting, karena ini film cinema dan karakter dari film cinema itu adalah dimana dalam klisenya memiliki lapisan remjet, maka untuk mendevelop film ini tidak dapat dilakukan di sembarang tempat, terutama di tempat develop film komersil langganan seperti Seni Abadi. Maka yang termudah adalah mendevelop film cinema kalian di tempat dimana kalian membelinya, nah disini yang mendevelopnya tentu saja di Hipercat Lab, lab film idola anak muda masa kini. Di Hipercat Lab ini kalian juga bisa mendevelop berbagai jenis film dan tentunya hasilnya sangat ciamik, film dilakukan develop dengan manual sehingga detail dan output develop yang dihasilkan jauh lebih terkontrol dibanding dengan menggunakan mesin otomatis. Kita pun bisa melakukan request untuk pull and push pada jenis film b&w yang ingin didevelop. Jadi, langsung saja ke hasil hunting kali ini ya. Sejauh Mata Memandang publikasi kedua!











Dzaka Zualfa
2020

Wednesday, April 22, 2020

Reposting dari tulisan sebelumnya yang sempat dipublikasikan di akhir tahun 2018. Sebuah oleh-oleh dari photowalk di sekitar Kota Bandung. Menggunakan kamera Canon 7 dengan lensa Industar 55m dan memilih film Ilford FP4 sebagai amunisi. Hitam-putih adalah warna yang saya pilih. Preferensi pribadi. Proses develop dan scan dilakukan di lab langganan, Seni Abadi Photostudio.

Mengangkat tema di awal photowalk, "Ruang". Setiap gambar yang saya tangkap bermaksud untuk mendeskripsikan secara eksplisit pluralisme dari arti "Ruang". Pasir Kaliki dan sekitaran Alun-Alun menjadi opsi untuk konsep foto yang saya susun ini. Beirkut merupakan 13 foto pilihan dari total 38 foto yang diambil. 













Dzaka Zulafa
2018

Wednesday, December 18, 2019

Tajuk yang hampir serupa yang saya ketikkan pada kolom browser Google Chrome saya saat mulai menggali ilmu di dunia persepedaan. Akhir tahun yang beriringan dengan masuknya musim penghujan membuat saya mengurangi aktivitas hunting foto jalanan dahulu. Kondisi cuaca mendung yang menyelimuti hari membuat hasil foto akan flat dan kurang menarik. Aktivitas Juanda yang sementara vakum pun menjadi alasan akhir-akhir ini saya memiliki lebih banyak waktu untuk berolahraga. Dan sepeda menjadi pilihan. Selain dikarenakan di rumah ada dua buah sepeda yang menganggur tak terpakai, namun bersepeda juga menjadi alasan saya untuk bisa mengelilingi Kota Bandung dengan santai sambil mencari lokasi dimana Juanda akan berlabuh tahun depan. Satu dua minggu di bulan Oktober saya habiskan untuk bersepeda menggunakan sepeda bekas Bapa yang beliau rakit saat masih aktif bersepeda bersama rekan-rekan sekantornya dulu. Sepeda dengan frame Federal ini tidak sepenuhnya enak dipakai saat pertama kali saya ajak dia turun ke jalanan Kota Bandung ini. Satu dua hal saya coba pelajari. Beberapa komponennya banyak yang perlu distel ulang agar lebih loncer dan nyaman dikendarai. Upgrade handlebar serta stem pun tak elak saya lakukan demi menambah kenyamana mengendarainya, karena pada dasarnya sepeda ini memiliki geometri yang kurang cocok dengan tubuh saya (ukuran sepeda 48). 

Kepalang tanggung mempelajari setiap komponen dalam sepeda, terbersit niat untuk membangun sepeda sendiri dengan geometri yang pas dan sesuai dengan tinggi serta posisi bersepeda saya pribadi (ukuran 52). Mulailah setelah itu saya mempelajari sedikit demi sedikit ilmu tentang sepeda dan perkembangannya saat ini. Jujur saya tak paham bahkan tak tahu nama setiap komponen sepeda pada awalnya. Eksplorasi ilmu tentang sepeda mengantarkan saya untuk membulatkan keinginan dalam membangun sepeda. Sepeda fixed gear menjadi pilihan saya. Alasannya cukup jelas, saya sangat menyukai kesederhanaan yang ditampilkan oleh sepeda jenis ini. Kesan rapi dan bersih tanpa kabel serta tuas rem di handle bar maupun body menambah daya tarik serta estetika sepeda jenis ini. Disamping itu perawatan sepeda fixed gear relatif lebih mudah dibandingkan jenis sepeda lain karena jumlah komponennya yang lebih sedikit serta mudah dibongkar pasang.

Sebelum beranjak membangun, langkah awal yang saat itu saya lakukan adalah merancang konsep. Saya sangat jatuh hati dengan sepeda fixed gear berkonsep klasik. Ramping dan elegan. Konsep klasik ini saya temui pada sepeda-sepeda yang digunakan untuk balapan "Keirin Race" di Jepang. Video-video tentang Keirin Race menjadi makanan saya sehari-hari kala itu, tak lupa sesekali saya ambil dan simpan gambar tiap sepeda yang digunakan pada Keirin Race ini sebagai benchmark untuk rancangan konsep sepeda yang akan saya bangun. Dari Keirin Race ini saya mengenal istilah NJS yang merupakan kependekkan dari Nihon Jitensha Shinkokai yang bila ditranslasi ke dalam bahasa Inggris menjadi Japan Bicycle Promotion Association atau disana lebih dikenal dengan Japan Keirin Association. Dimana setiap sepeda yang digunakan pada Keirin Race haruslah diapproved atau terstandarisasi NJS. Sehingga bisa dibilang NJS ini merupakan asosiasi yang berkutat dibidang  sertifikasi sepeda khususnya untuk Keirin Race di Jepang. Deskripsi lebih mendalam terkait NJS bisa teman-teman peroleh di Google atau melalui forum-forum sepeda seperti pada cycling-id ini.

Sedikit cuplikan dan ulasan terkait Keirin Race dapat teman-teman tonton pada tautan video di atas.

Konsep sudah terbentuk. Rincian jenis dan merk setiap komponen sudah dicatat. Selanjutnya adalah bagian tersulit, yaitu mencari dan mengumpulkan satu demi satu komponen tersebut. Alhamdulillah walau harus ada beberapa komponen yang mengalami penyesuain dikarenakan komponen yang diinginkan sulit dicari, tetapi hampir keseluruhan konsep yang telah direncanakan sebelumnya dapat direalisasikan. Hampir seluruh komponen yang saya perlukan untuk membangun sepeda ini saya peroleh dari e-commerce. Di Bandung sendiri sangatlah sulit menemukan toko sepeda offline yang menyediakan berbagai komponen untuk sepeda fixed gear, terutama terkait dengan konsep yang ingin saya bangun ini. Kurang lebih butuh satu bulan hingga sepeda ini selesai dibangun, ada beberapa komponen yang tidak tersedia sehingga membutuhkan waktu cukup lama dikarenakan saya harus menunggu kloter pre-order dari Jepang.

Kembali ke tajuk postingan di atas. Tajuk ini dipilih karena frame yang saya pakai disini sejatinya bukanlah frame baru dan juga bukan merupakan frame yang diperuntukkan untuk sepeda fixed gear, melainkan frame yang diperuntukkan untuk sepeda jenis road bike. Frame ini merupakan frame bekas keluaran tahun 1971, yang dahulunya merupakan sepeda ontel perkotaan yang sempat beredar banyak di Indonesia (selain sepeda merk Phoenix). Hal yang membedakan peruntukkan setiap jenis frame sepeda bisa dilihat pada bentuk dropoutnya, frame yang saya pakai ini memiliki bentuk dropout yang horizontal dan memiliki dudukan untuk derailleur atau gear belakang, sedangkan untuk fixed gear umumnya memakai dropout yang berbentuk horizontal melintang atau disebut dengan istilah track forkend. Frame ini bermerk Napoli Otsuda ukuran 52, saya ambil karena harga dan geometrinya cocok dengan budget serta ukuran tubuh saya, dan selain itu desainnya sangat klasik didukung dengan lebar batang yang sangat ramping dan adanya emblem (Pak Bagio menyebutnya ketrikan) Napoli Otsuda di bagian depan frame ini. Frame ini saya peroleh dari Bapak Bagio seorang penghobi sepeda dari Kota Malang. Beliau sebelumnya menggunakan frame ini untuk konsep sepeda klasik berjenis road bike dimana disana beliau sematkan gear shifter yang bentuknya seperti jepitan jemuran, sangat klasik. Beliau sendiri membonuskan shifter tersebut pada saya saat saya mengakuisisi frame ini. Namun, dikarenakan jenis sepeda yang saya bangun adalah sepeda fixed gear maka dengan berat hati gear shifter itu sementara waktu harus menepi dulu. Spesifikasi lebih jelas untuk setiap komponen dalam sepeda ini akan saya sebutkan di bawah setelah saya pamerkan beberapa foto bentuk jadi sepeda ini. Terima kasih sudah mengikuti cerita singkat pembangunan sepeda ini, sampai berjumpa di jalan!






Frame: 
Napoli Otsuda size 52 (bekas)
Bottom Bracket Viva Taiwan
Headset Ali Japan
Wheelset:
Hub and Freehub Formula 36H silver
COG 17T dan Lockring Formula
Rims Araya 733 silver 700c
Spoke Shimano 299 chrome
Rims Tape Unbranded
Ban Dalam Depan Kenda 23-25c
Ban Dalam Belakang Polygon 25-28c
Ban Luar Depan-Belakang Kenda 700c/25c
Crankset:
Crank dan Chainring Campagnolo Non Series 48T
Pedal MKS Soma Citoyen du Monde
Toe Clip Well Go Plastic Toe Clip (bekas)
Rantai United Single Speed
Seatset:
Seatpin Unbranded
Seatpost Kalloy 25.4
Saddle Velo Racing
Barset:
Stem Nitto Jaguar 80mm NJS
Dropbar Nitto CrMo 380mm NJS
Accessories:
Grip One Percent Bartape HEX
 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance